Jumat, 13 Juli 2018

MENGANALISIS UMKM DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL



MAKALAH PEREKONOMIAN INDONESIA
MENGANALISIS UMKM  DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL









Oleh :
REGITA PUSPA NINGRUM
( 25217026 )
1EB18


ATA 2017/2018




I.                  PENDAHULUAN

Dalam meningkatkan suatu keuangan pada perekonomian Indonesia pasti didukung oleh UMKM dan perdagangan Internasional. Karena, dengan adanya kedua kriteria pokok itu akan membantu dalam menambahkan ke dalam keuangan suatu negara. UMKM ( Usaha Mikro Kecil dan Menengah ) adalah usaha produktif yang dimiliki perorangan maupun badan usaha yang telah memenuhi kriteria sebagai usaha mikro. Sedangkan perdagangan Internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Maka dari itu, pada makalah ini akan membahas suatu ulasan tentan kondisi UMKM dan Perdagangan Internasional sebagaimana yang akan berpengaruh pada perekonomian Indonesia. Dari tahun ke tahun UMKM di Indonesia juga telah ada peningkatkan yang dapat diartikan telah banyak penduduk di Indonesia yang berkontribusi di bidang wirausaha. Begitu pun juga perdagangan Internasional yang didukung oleh penduduk Indonesia. Karena, dengan adanya UMKM masyarakat tersebut akan berkembang dalam menjalaninya yang akan berpengaruh menjadi perdagangan Internasional tetapi, dalam perdagangan Internasional yang menjadi beban bagi negara Indonesia tersebut adalah masih banyak suatu perusahaan yang bahan – bahannya bergantung oleh impor. Maka, penyebab ini yang akan menyebabkan biaya – biaya penjualan naik. Berikut ini akan dijelaskan secara detail seperti apa UMKM serta perdagangan Internasional yang sedang dijalankan di Indonesia.



  

II.               PEMBAHASAN

1.      Bagaimana kondisi, jumlah kontribusi PDB ekspor, penyerap tenaga kerja UMKM (saat ini). Bagaimana/ Kapan meningkatkan UMKM berkembang?

Berikut ialah data bersumber dari sebuah artikel :
Jakarta, CNN Indonesia--Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Sandiaga Uno memprediksi unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia bisa menembus 60 juta unit dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Angka tersebut meningkat 3,5 persen dibanding posisi akhir tahun 2016 sebanyak 58 juta unit, sesuai data Kementerian Koperasi dan UKM.

Namun, Sandi mengatakan pertumbuhan angka UMKM ini seharusnya ditanggapi dengan kritis. Menurutnya, menjamurnya UMKM ini disebabkan karena banyak angkatan kerja yang tidak mampu diserap pasar tenaga kerja formal.

Sehingga menurutnya, saat ini pelaku UMKM mau tak mau membuka usaha untuk menyambung hidup. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan UMKM adalah by default bukan by design.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pekerja di sektor formal menurun 0,75 persen dari 51,87 juta orang di Februari 2016 ke angka 50,21 juta orang di periode yang sama tahun berikutnya. Sementara itu, jumlah pekerja di sektor informal mencapai 72,67 juta orang di waktu yang sama.

Menyikapi hal tersebut, Sandi mengatakan bahwa UMKM mau tak mau harus naik kelas. Salah satu caranya adalah dengan melempar sebagian kepemilikannya melalui penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO).

Dengan melempar saham ke lantai bursa, UMKM dianggap bisa mengelola uangnya dengan baik dan bisa membuat valuasi perusahaannya semakin besar. Ia mencontohkan beberapa start up berbasis teknologi seperti Google, Facebook, hingga Amazon bisa menjadi papan atas di bursa saham New York

Berikut ialah data bersumber dari sebuah artikel :

“Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) melansir sebanyak 3,79 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah memanfaatkan platform online dalam memasarkan produknya. Jumlah ini berkisar 8 persen dari total pelaku UMKM yang ada di Indonesia, yakni 59,2 juta.

Untuk menumbuhkan jumlah pelaku UMKM yang berselancar di dunia maya, Kemenkop UKM dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama dengan para pelaku e-commerce menggagas program bertajuk 8 Juta UMKM Go Online.”

Pada data diatas tersebut dapat dijelaskan bahwa UMKM yang awalnya di prediksi akan meningkat namun pada formal menurun memang dapat menyebabkan dalam persaingan perekonomian Internasional. Namun, dari tahun ke tahun sampai sekarang telah banyak berkembang dibidang online atau digital. Tidak seperti dulu sebagaimana UMKM hanya mengandalkan perdagangan yang pesat dengan cara tanpa digital. Dengan adanya perkembangan teknologi kini, UMKM di Indonesia dapat beroperasi secara digital dan sudah banyak penduduk Indonesia menghimpun UMKM digital seperti misal ; Go-Jek, BukaLapak,TokoPedia,Traveloka dsb. Dengan pesatnya UMKM digital ini akan banyak peluang pekerjaan untuk warga Indonesia agar dapat mengurangi juga tingkat pengangguran. Dengan adanya seperti ini juga akan membangun dan mendorong masyarakatnya untuk membangunkan UMKM yang lebih canggih lagi jadi, akan ada perputaran terhadap pelaku ekonomi tersebut. Pada intinya, UMKM berbasis digital ini akan berjalan dengan baik dan dilakukan dengan baik guna membantu mengurangi tingkat pengangguran. Walaupun sekarang banyak UMKM yang berbasis informal dibandingkan formal, setidaknya minimal tingkat pengangguran tidak meningkat setalah itu baru dibangunkan kembali menjadi pekerjaan yang formal tahap demi tahap. Dan UKM tersebut akan berumpun ke Perdagangan Internasional.
Pada kontribusi PDB ekspor juga sudah ada beberapa UMKM yang telah menjalankan ekspor ke pada negara lain ini juga adanya pertumbuhan UMKM digital yang akan membantu untuk perhitungan PDB ekspor. Maka, perekonomian Indonesia masih membaik serta tidak memburuk dengan adanya UMKM yang dilakukan penduduk Indonesia juga akan membantu menambahkan peningkatan perekonomian bagi negara untuk mensejahterahkan rakyatnya. Dalam meningkatkan UMKM berkembang dimulai dari sekarang yang dikarenakan pesatnya perkembangan teknologi membuat UMKM digital banyak yang membangunnya sehingga berguna untuk penduduk Indonesia yang memerlukan pekerjaan hingga untuk Indonesia guna memperbaiki perekonomian negara.

2.      Perdangan Luar Negeri :
-          Kondisi perdangan luar negeri
-          Berapa ekspor impor
-          Adanya terjadi surplus/defisit, kenapa?
-          Sektor apa yang menopang ekspor
-          Sektor apa yang menyebabkan impor tinggi
-          Bagaimana pengaruhnya dengan nilai tukar uang, separah apa?
Berikut ialah data bersumber dari BPS :
Pada Januari 2018, nilai impor mencapai USD15.309,4 juta, naik 1,43 persen (USD216,0 juta) dibandingkan bulan sebelumnya, namun volumenya turun 8,18 persen menjadi 13.227,1 ribu ton. Nilai impor Januari 2018 terdiri dari impor migas USD2.259,2 juta dan nonmigas USD13.050,2 juta dengan peranan 14,76 persen dan 85,24 persen. Sementara volume impor migas tercatat 3,744,2 ribu ton (28,31 persen) dan nonmigas 9.482,9 ribu ton (71,69 persen).
Dari keseluruhan nilai impor pada Januari 2018, negara asal utama ditempatiqing (24,75 persen), diikuti oleh Singapura (11,89 persen) dan Jepang (8,91 persen). Sementara buah-buahan yang digunakan untuk barang-barang impor, golongan bahan baku / penolong masih ditanamkan besar-besaran impor Indonesia dengan peran 74,90 persen, diikuti barang modal 16,20 persen, dan barang konsumsi 8,90 persen.
Impor Indonesia Januari 2018 sebanyak 53,35 persen (8,166,9 juta) dibongkar di provinsi DKI Jakarta. Menurut golongan barang SITC (Standar Klasifikasi Perdagangan Internasional) 1 dijit, kelompok barang utama impor selama Januari 2018 adalah kelompok mesin dan alat transportasi dengan nilai USD5.018,9 juta (naik 37,36 persen).
Jadi, dapat dilihat pada data tersebut dalam perdagangan internasional di Indonesia masih terjadi defisit pada penerimaan negara. Mengapa bisa begitu? Karena dalam kegiatan perdagangan internasional di Indonesia masih mengandalkan proses impor untuk memiliki alat/mesin tersebut. Tidak hanya mengimpor alat/mesin saja tetapi juga mengimpor bahan – bahan makanan. Hal ini yang terkadang penjualan suka mengalami kenaikan yang menyebabkan penjualanan tersebut masih melakukan kegiatan impor. Apalagi tahun ini proses impor masih melonjak naik dibandingkan kegiatan ekspor ke negara lainnya. Sehingga, untuk mendapatkan penerimaan negara dalam perdagangan internasional masih belum stabil untuk mendapatkan penerimaan yang surplus. Kini sektor yang menopang ekspor ialah ada bahan setengah jadi  serta sumber daya alam yang dimiliki di Indonesia dan juga ada eskpor pada sektor manufaktur. Sedangkan sektor yang menyebabkan impor tinggi ialah dibidang industry yaitu mengimpor permesinan dan logam,tekstil,pakan,ternak,otomotif,eletronik, serta kimia yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu migas dan non migas. Terjadinya nilai tukar rupiah juga masih mengalami perubahan terkadang menaik atau menurun. Sehingga, apabila nilai tukar rupiah menaik sangat merugikan sekali bagi negara Indonesia. Mengapa? Karena jumlah impor di Indonesia masih relatif tinggi yang sebagaimana hasil penjualan yang sangat terpengaruh sehingga sangat terancam bagi perusahaan,masyarakat hingga penerimaan negara. Jadi, di Indonesia sangat berhati – hati sekali dalam kejadian itu apalagi adanya masalah antar negara internasional itu juga akan menyebabkan kenaikan nilai tukar tersebut. Maka, perlu diusahakan dan dihimbau kembali kepada UMKM serta dalam kegiatan perdagangan internasional untuk tidak selalu mengandalkan kegiatan impor tetapi, mengadalkan kegiatan ekspor agar penerimaan negara tidak terjadi defisit terus menerus.

III.           PENUTUP

-          Kesimpulan
Maraknya UMKM sangat menguntungkan bagi negara Indonesia apalagi, adanya berbasis digital dalam berwirausaha. Maka, kegiatan ini harus dipertahankan serta dikembangkan agar tidak terjadi dalam tingkat pengangguran yang tinggi. Tetapi dalam melakukan berwirausaha seperti itu, perlu dilakukan perkembang lagi agar dapat turun ke bidang formal tidak hanya di informal saja. Sehingga, akan melakukan terjun ke dunia perdagangan internasional guna menambahkan penerimaan negara. Tetapi, perdagangan internasional di Indonesia masih selalu mengandalkan kegiatan impor dibanding memperbanyak ekspornya.  

-          Saran
Negara Indonesia lebih dibiasakan kembali untuk tidak melakukan impor. Karena dari dulu kasusnya ialah terlalu banyak impor yang mengakibatkan penerimaan negara defisit. Sehingga apabila ekspor Indonesia banyak maka penerimaan negara Indonesia kemungkinan akan mengalami surplus.



DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGANALISIS UMKM DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL

MAKALAH PEREKONOMIAN INDONESIA MENGANALISIS UMKM   DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL Oleh : RE...