MAKALAH PEREKONOMIAN INDONESIA
MENGANALISIS UMKM DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Oleh :
REGITA PUSPA NINGRUM
( 25217026 )
1EB18
ATA 2017/2018
I.
PENDAHULUAN
Dalam meningkatkan
suatu keuangan pada perekonomian Indonesia pasti didukung oleh UMKM dan
perdagangan Internasional. Karena, dengan adanya kedua kriteria pokok itu akan
membantu dalam menambahkan ke dalam keuangan suatu negara. UMKM ( Usaha Mikro
Kecil dan Menengah ) adalah usaha
produktif yang dimiliki perorangan maupun badan usaha yang telah
memenuhi kriteria sebagai usaha mikro. Sedangkan perdagangan Internasional
adalah perdagangan yang dilakukan oleh
penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan
bersama. Maka dari itu, pada makalah ini akan membahas suatu ulasan tentan
kondisi UMKM dan Perdagangan Internasional sebagaimana yang akan berpengaruh
pada perekonomian Indonesia. Dari tahun ke tahun UMKM di Indonesia juga telah
ada peningkatkan yang dapat diartikan telah banyak penduduk di Indonesia yang
berkontribusi di bidang wirausaha. Begitu pun juga perdagangan Internasional yang
didukung oleh penduduk Indonesia. Karena, dengan adanya UMKM masyarakat
tersebut akan berkembang dalam menjalaninya yang akan berpengaruh menjadi
perdagangan Internasional tetapi, dalam perdagangan Internasional yang menjadi
beban bagi negara Indonesia tersebut adalah masih banyak suatu perusahaan yang
bahan – bahannya bergantung oleh impor. Maka, penyebab ini yang akan
menyebabkan biaya – biaya penjualan naik. Berikut ini akan dijelaskan secara
detail seperti apa UMKM serta perdagangan Internasional yang sedang dijalankan
di Indonesia.
II.
PEMBAHASAN
1.
Bagaimana
kondisi, jumlah kontribusi PDB ekspor, penyerap tenaga kerja UMKM (saat ini). Bagaimana/ Kapan meningkatkan UMKM berkembang?
Berikut ialah data bersumber dari
sebuah artikel :
“Jakarta, CNN Indonesia--Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih
Sandiaga Uno memprediksi unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di
Indonesia bisa menembus 60 juta unit dalam kurun waktu lima tahun mendatang.
Angka tersebut meningkat 3,5 persen dibanding posisi akhir tahun 2016 sebanyak
58 juta unit, sesuai data Kementerian Koperasi dan UKM.
Namun, Sandi mengatakan pertumbuhan angka UMKM ini seharusnya ditanggapi dengan kritis. Menurutnya, menjamurnya UMKM ini disebabkan karena banyak angkatan kerja yang tidak mampu diserap pasar tenaga kerja formal.
Sehingga menurutnya, saat ini pelaku UMKM mau tak mau membuka usaha untuk menyambung hidup. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan UMKM adalah by default bukan by design.
Namun, Sandi mengatakan pertumbuhan angka UMKM ini seharusnya ditanggapi dengan kritis. Menurutnya, menjamurnya UMKM ini disebabkan karena banyak angkatan kerja yang tidak mampu diserap pasar tenaga kerja formal.
Sehingga menurutnya, saat ini pelaku UMKM mau tak mau membuka usaha untuk menyambung hidup. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan UMKM adalah by default bukan by design.
Mengacu data Badan Pusat Statistik
(BPS), jumlah pekerja di sektor formal menurun 0,75 persen dari 51,87 juta
orang di Februari 2016 ke angka 50,21 juta orang di periode yang sama tahun
berikutnya. Sementara itu, jumlah pekerja di sektor informal mencapai 72,67
juta orang di waktu yang sama.
Menyikapi hal tersebut, Sandi mengatakan bahwa UMKM mau tak mau harus naik kelas. Salah satu caranya adalah dengan melempar sebagian kepemilikannya melalui penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO).
Dengan melempar saham ke lantai bursa, UMKM dianggap bisa mengelola uangnya dengan baik dan bisa membuat valuasi perusahaannya semakin besar. Ia mencontohkan beberapa start up berbasis teknologi seperti Google, Facebook, hingga Amazon bisa menjadi papan atas di bursa saham New York “
Berikut ialah data bersumber dari
sebuah artikel :
“Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Koperasi dan
Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) melansir sebanyak 3,79 juta usaha mikro,
kecil, dan menengah (UMKM) sudah memanfaatkan platform online dalam memasarkan
produknya. Jumlah ini berkisar 8 persen dari total pelaku UMKM yang ada di
Indonesia, yakni 59,2 juta.
Untuk menumbuhkan jumlah pelaku UMKM yang berselancar di dunia maya, Kemenkop UKM dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama dengan para pelaku e-commerce menggagas program bertajuk 8 Juta UMKM Go Online.”
Untuk menumbuhkan jumlah pelaku UMKM yang berselancar di dunia maya, Kemenkop UKM dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama dengan para pelaku e-commerce menggagas program bertajuk 8 Juta UMKM Go Online.”
Pada data diatas
tersebut dapat dijelaskan bahwa UMKM yang awalnya di prediksi akan meningkat
namun pada formal menurun memang dapat menyebabkan dalam persaingan
perekonomian Internasional. Namun, dari tahun ke tahun sampai sekarang telah
banyak berkembang dibidang online atau digital. Tidak seperti dulu sebagaimana
UMKM hanya mengandalkan perdagangan yang pesat dengan cara tanpa digital.
Dengan adanya perkembangan teknologi kini, UMKM di Indonesia dapat beroperasi
secara digital dan sudah banyak penduduk Indonesia menghimpun UMKM digital
seperti misal ; Go-Jek, BukaLapak,TokoPedia,Traveloka dsb. Dengan pesatnya UMKM
digital ini akan banyak peluang pekerjaan untuk warga Indonesia agar dapat
mengurangi juga tingkat pengangguran. Dengan adanya seperti ini juga akan
membangun dan mendorong masyarakatnya untuk membangunkan UMKM yang lebih
canggih lagi jadi, akan ada perputaran terhadap pelaku ekonomi tersebut. Pada
intinya, UMKM berbasis digital ini akan berjalan dengan baik dan dilakukan
dengan baik guna membantu mengurangi tingkat pengangguran. Walaupun sekarang
banyak UMKM yang berbasis informal dibandingkan formal, setidaknya minimal
tingkat pengangguran tidak meningkat setalah itu baru dibangunkan kembali
menjadi pekerjaan yang formal tahap demi tahap. Dan UKM tersebut akan berumpun
ke Perdagangan Internasional.
Pada kontribusi PDB
ekspor juga sudah ada beberapa UMKM yang telah menjalankan ekspor ke pada
negara lain ini juga adanya pertumbuhan UMKM digital yang akan membantu untuk
perhitungan PDB ekspor. Maka, perekonomian Indonesia masih membaik serta tidak
memburuk dengan adanya UMKM yang dilakukan penduduk Indonesia juga akan
membantu menambahkan peningkatan perekonomian bagi negara untuk mensejahterahkan
rakyatnya. Dalam meningkatkan UMKM berkembang dimulai dari sekarang yang
dikarenakan pesatnya perkembangan teknologi membuat UMKM digital banyak yang
membangunnya sehingga berguna untuk penduduk Indonesia yang memerlukan
pekerjaan hingga untuk Indonesia guna memperbaiki perekonomian negara.
2.
Perdangan Luar
Negeri :
-
Kondisi
perdangan luar negeri
-
Berapa ekspor
impor
-
Adanya terjadi
surplus/defisit, kenapa?
-
Sektor apa yang
menopang ekspor
-
Sektor apa yang
menyebabkan impor tinggi
-
Bagaimana
pengaruhnya dengan nilai tukar uang, separah apa?
Berikut ialah
data bersumber dari BPS :
Pada Januari
2018, nilai impor mencapai USD15.309,4 juta, naik 1,43 persen (USD216,0 juta)
dibandingkan bulan sebelumnya, namun volumenya turun 8,18 persen menjadi 13.227,1
ribu ton. Nilai impor Januari 2018 terdiri dari impor migas USD2.259,2 juta dan
nonmigas USD13.050,2 juta dengan peranan 14,76 persen dan 85,24 persen.
Sementara volume impor migas tercatat 3,744,2 ribu ton (28,31 persen) dan
nonmigas 9.482,9 ribu ton (71,69 persen).
Dari
keseluruhan nilai impor pada Januari 2018, negara asal utama ditempatiqing
(24,75 persen), diikuti oleh Singapura (11,89 persen) dan Jepang (8,91 persen).
Sementara buah-buahan yang digunakan untuk barang-barang impor, golongan bahan
baku / penolong masih ditanamkan besar-besaran impor Indonesia dengan peran
74,90 persen, diikuti barang modal 16,20 persen, dan barang konsumsi 8,90
persen.
Impor Indonesia
Januari 2018 sebanyak 53,35 persen (8,166,9 juta) dibongkar di provinsi DKI
Jakarta. Menurut golongan barang SITC (Standar Klasifikasi Perdagangan
Internasional) 1 dijit, kelompok barang utama impor selama Januari 2018 adalah
kelompok mesin dan alat transportasi dengan nilai USD5.018,9 juta (naik 37,36
persen).
Jadi, dapat dilihat
pada data tersebut dalam perdagangan internasional di Indonesia masih terjadi defisit
pada penerimaan negara. Mengapa bisa begitu? Karena dalam kegiatan perdagangan
internasional di Indonesia masih mengandalkan proses impor untuk memiliki
alat/mesin tersebut. Tidak hanya mengimpor alat/mesin saja tetapi juga
mengimpor bahan – bahan makanan. Hal ini yang terkadang penjualan suka
mengalami kenaikan yang menyebabkan penjualanan tersebut masih melakukan
kegiatan impor. Apalagi tahun ini proses impor masih melonjak naik dibandingkan
kegiatan ekspor ke negara lainnya. Sehingga, untuk mendapatkan penerimaan negara
dalam perdagangan internasional masih belum stabil untuk mendapatkan penerimaan
yang surplus. Kini sektor yang menopang ekspor ialah ada bahan setengah
jadi serta sumber daya alam yang
dimiliki di Indonesia dan juga ada eskpor pada sektor manufaktur. Sedangkan sektor
yang menyebabkan impor tinggi ialah dibidang industry yaitu mengimpor
permesinan dan logam,tekstil,pakan,ternak,otomotif,eletronik, serta kimia yang dibagi
menjadi 2 kelompok yaitu migas dan non migas. Terjadinya nilai tukar rupiah
juga masih mengalami perubahan terkadang menaik atau menurun. Sehingga, apabila
nilai tukar rupiah menaik sangat merugikan sekali bagi negara Indonesia. Mengapa?
Karena jumlah impor di Indonesia masih relatif tinggi yang sebagaimana hasil
penjualan yang sangat terpengaruh sehingga sangat terancam bagi perusahaan,masyarakat
hingga penerimaan negara. Jadi, di Indonesia sangat berhati – hati sekali dalam
kejadian itu apalagi adanya masalah antar negara internasional itu juga akan
menyebabkan kenaikan nilai tukar tersebut. Maka, perlu diusahakan dan dihimbau
kembali kepada UMKM serta dalam kegiatan perdagangan internasional untuk tidak
selalu mengandalkan kegiatan impor tetapi, mengadalkan kegiatan ekspor agar
penerimaan negara tidak terjadi defisit terus menerus.
III.
PENUTUP
-
Kesimpulan
Maraknya
UMKM sangat menguntungkan bagi negara Indonesia apalagi, adanya berbasis
digital dalam berwirausaha. Maka, kegiatan ini harus dipertahankan serta
dikembangkan agar tidak terjadi dalam tingkat pengangguran yang tinggi. Tetapi dalam
melakukan berwirausaha seperti itu, perlu dilakukan perkembang lagi agar dapat
turun ke bidang formal tidak hanya di informal saja. Sehingga, akan melakukan
terjun ke dunia perdagangan internasional guna menambahkan penerimaan negara. Tetapi,
perdagangan internasional di Indonesia masih selalu mengandalkan kegiatan impor
dibanding memperbanyak ekspornya.
-
Saran
Negara
Indonesia lebih dibiasakan kembali untuk tidak melakukan impor. Karena dari
dulu kasusnya ialah terlalu banyak impor yang mengakibatkan penerimaan negara
defisit. Sehingga apabila ekspor Indonesia banyak maka penerimaan negara
Indonesia kemungkinan akan mengalami surplus.
DAFTAR
PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar